DIRGAHAYU TABLOID BHINEKA KE 3......Alamat Redaksi Jl.Cempaka 3 No.15 BF/10 Rt.004/014 Perum Bekasi Jaya Indah kelurahan Duren Jaya Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi..Telphone : 021-99441610,081519681610,082114091610
Personil Mahapatih Gajah Mada Band - Generasi Peduli Sejarah Budaya Nusantara Syuting Video Klip dikawah Sikidang Ginung Dieng Riset * Pembuatan Video Klip Di Prasasti Petilasan Sri Aji Jayabaya Syuting Video Klip Di Prasasti Gajah Mada




Senin, 13 Januari 2014

Sejarah Kerajaan Sunda


KERAJAAN Sunda adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa (Provinsi Banten, Jakar¬ta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah sekarang). Ker¬jaan ini bahkan pernah men¬guasai wilayah bagian selatan Pulau Sumatera. Kerajaan Sunda bercorak Hindu dan Buddha, kemudian sekitar abad ke-14 diketahui kerajaan ini telah beribukota di Pakuan Pajajaran serta memiliki dua kawasan pelabuhan utama di Kalapa dan Banten. Kerajaan Sunda runtuh setelah ibukota kerajaan ditaklukan oleh Maulana Yusuf pada tahun 1579. Semen¬tara sebelumnya kedua pelabuhan utama Kerajaan Sunda itu juga telah dikuasai oleh Kerajaan Demak pada tahun 1527, Kalapa ditaklukan oleh Fatahillah dan Banten dita¬klukan oleh Maulana Hasanuddin. 
Padrão Sunda Kalapa (1522), sebuah pilar batu untuk memperingati perjanjian Sunda-Portugis, Museum Nasional In¬donesia, Jakarta. Meskipun nama Sunda disebutkan dalam prasasti, naskah-naskah kuno, dan catatan sejarah dari luar neg¬eri, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto menyatakan bahwa belum begitu banyak prasasti yang dite¬mukan di Jawa Barat dan secara jelas me¬nyebutkan nama kerajaannya, walau dalam berbagai sumber kesusastraan, secara tegas Sunda merujuk kepada nama kawasan. Di¬duga sebelum keruntuhannya tahun 1579, Kerajaan Sunda telah mengalami beberapa kali perpindahan pusat pemerintahannya, dimulai dari Galuh dan berakhir di Pakuan Pajajaran. Menurut Hirth dan Rockhill, ada sumber Cina tertentu mengenai Kerajaan Sunda. Pada saat Dinasti Sung Selatan, in¬spektur perdagangan dengan negara-negara asing, Zhao Rugua mengumpulkan laporan dari para pelaut dan pedagang yang benar-benar mengunjungi negara-negara asing. Dalam laporannya tentang negara Jauh, Zhufan Zhi, yang ditulis tahun 1225, me¬nyebutkan pelabuhan di “Sin-t’o”. Zhao melaporkan bahwa: 
“Orang-oarang tinggal di sepanjang pantai. Orang-orang tersebut bekerja dalam bidang pertanian, rumah-rumah mereka dibangun diatas tiang (rumah panggung) dan dengan atap jerami dengan daun pohon kelapa dan dinding-dindingnya dibuat den¬gan papan kayu yang diikat dengan rotan. Laki-laki dan perempuan membungkus pinggangnya dengan sepotong kain katun, dan memotong rambut mereka sampai pan¬jangnya setengah inci. Lada yang tumbuh di bukit (negeri ini) bijinya kecil, tetapi be¬rat dan lebih tinggi kualitasnya dari Ta-pan (Tuban, Jawa Timur). Negara ini meng¬hasilkan labu, tebu, telur kacang dan tana¬man.” 
Buku perjalanan Cina Shunfeng xiang¬song dari sekitar 1430 mengatakan : 
“Dalam perjalanan ke arah timur dari Shun-t’a, sepanjang pantai utara Jawa, ka¬pal dikemudikan 97 1/2 derajat selama tiga jam untuk mencapai Kalapa, mereka kemu¬dian mengikuti pantai (melewati Tanjung Indramayu), akhirnya dikemudikan 187 derajat selama empat jam untuk mencapai Cirebon. Kapal dari Banten berjalan ke arah timur sepanjang pantai utara Jawa, melewati Kalapa, melewati Indramayu, melewati Cirebon.” 
Laporan Eropa berasal dari periode berikutnya menjelang jatuhnya Kerajaan Sunda oleh kekuatan Kesultanan Banten. Salah satu penjelajah itu adalah Tomé Pires dari Portugal. Dalam bukunya Suma Orien¬tal (1513 - 1515) ia menulis bahwa: 
“Beberapa orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda luasnya setengah dari seluruh pulau Jawa; sebagian lagi men¬gatakan bahwa Kerajaan Sunda luasnya sepertiga dari pulau Jawa dan ditambah seperdelapannya.” 
Di wilayah Jawa Barat ditemukan be¬berapa candi, antara lain Percandian Batu¬jaya di Karawang (abad ke-2 sampai ke-12) yang bercorak Buddha, serta percandian Hindu yaitu Candi Bojongmenje di Ka¬bupaten Bandung yang berasal dari abad ke-7 (sezaman dengan percandian Dieng), dan Candi Cangkuang di Leles, Garut yang bercorak Hindu Siwa dan diduga berasal dari abad ke-8 Masehi. Siapa yang mem¬bangun candi-candi ini masih merupakan misteri, namun umumnya disepakati bahwa candi-candi ini dikaitkan dengan kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Jawa Barat, yaitu Tarumanagara, Sunda dan Galuh. Di Museum Nasional Indonesia di Jakarta terdapat sejumlah arca yang disebut “arca Caringin” karena pernah menjadi hiasan kebun asisten-residen Belanda di tempat tersebut. Arca tersebut dilaporkan ditemu¬kan di Cipanas, dekat kawah Gunung Pulo¬sari, dan terdiri dari satu dasar patung dan 5 arca berupa Shiwa Mahadewa, Durga, Batara Guru, Ganesha dan Brahma. Cor¬aknya mirip corak patung Jawa Tengah dari awal abad ke-10. Di situs purbakala Banten Girang, yang terletak kira-kira 10 km di sebelah selatan pelabuhan Banten seka¬rang, terdapat reruntuhan dari satu istana yang diperkirakan didirikan di abad ke-10. Banyak unsur yang ditemukan dalam re¬runtuhan ini yang menunjukkan pengaruh Jawa Tengah. Situs-situs arkeologi lain yang berkaitan dengan keberadaan Keraja¬an Sunda, masih dapat ditelusuri terutama pada kawasan muara Sungai Ciliwung ter¬masuk situs Sangiang di daerah Pulo Ga¬dung. Hal ini mengingat jalur sungai meru-pakan salah satu alat transportasi utama pada masa tersebut. Selain dari beberapa prasasti dan berita dari luar, beberapa karya sastra dan karya bentuk lainnya dari nas¬kah lama juga digunakan dalam merunut keberadaan Kerajaaan Sunda, antaranya naskah Carita Parahyangan, Pararaton, Bu¬jangga Manik, naskah didaktik Sanghyang siksakanda ng karesian, dan naskah sejarah Sajarah Banten. 

Berdirinya kerajaan Sunda 
Berdasarkan Prasasti Kebonkopi II, yang berbahasa Melayu Kuno dengan tarikh 932, menyebutkan seorang “Raja Sunda menduduki kembali tahtanya”. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Raja Sunda telah ada sebelumnya. Sementara dari sum¬ber Tiongkok pada buku Zhufan Zhi yang ditulis pada tahun 1178 oleh Zhao Rugua menyebutkan terdapat satu kawasan dari San-fo-ts’i yang bernama Sin-to kemudian dirujuk kepada Sunda. Menurut naskah Wangsakerta, naskah yang oleh sebagian orang diragukan keasliannya serta diragu¬kan sebagai sumber sejarah karena sangat sistematis, menyebutkan Sunda merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kera¬jaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didiri¬kan oleh Tarusbawa pada tahun 669 (591 Saka). Kerajaan ini merupakan suatu kera¬jaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah. Sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bawahan Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman At-mahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun, 666- 669 M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perem¬puan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, me¬nikah dengan Dapunta Hyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan Kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman mening¬gal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menye¬babkan penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Kerajaan Galuh yang mandiri. Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara, dan selanjutnya memin¬dahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cis¬adane berdekatan dan berjajar, dekat Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Sunda dan Ga¬luh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur). Berdasar¬kan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali (“Sungai Pamali”, sekarang disebut seb¬agai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah. Kerajaan Sunda yang berikbukota di Pajajaran juga mencakup wilayah bagian selatan pulau Sumatera. Setelah Kerajaan Sunda diruntuhkan oleh Kesultanan Banten maka kekuasaan atas wilayah selatan Su¬matera dilanjutkan oleh Kesultanan Bant¬en. Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Keraja¬an Sunda dan Lampung. Lampung dipisah¬kan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda. Islam mulai masuk ke wilayah Tatar Pasundan pada abad ke-7 Masehi. Namun penyebarannya secara signifikan baru dimulai pada abad ke-13 Masehi. Pada tahun 1416, Laksamana Zheng He dari Dinasti Ming melakukan ekspedisi ke-5 menuju Nusantara. Dalam rombongannya terdapat Syekh Hasanuddin, juga dike-nal sebagai Syekh Qura yang berasal dari Champa. Saat armada Zheng He singgah di Karawang, Syekh Hasanuddin beserta pengikutnya turun dan bermukim di Tan¬jungpura. Atas izin Prabu Niskala Wastu Kancana, Syekh Hasanuddin mendirikan pesantren bernama Pondok Qura di Tan¬jungpura, yang merupakan pesantren tertua di Jawa Barat. Ia kemudian menjadi guru dari Nyi Mas Subanglarang, salah-satu is¬tri dari Prabu Sri Baduga Maharaja yang menganut Islam. Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasu¬kan Maulana Yusuf dari Kesultanan Bant¬en, mengakibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh. 

Persekutuan antara Sunda dan Galuh 
Putera Tarusbawa yang terbesar, Rarky¬an Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh, sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan. Ibu dari Sanjaya adalah Sanaha, cucu Ratu Shima dari Ka¬lingga di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa/Sena/Sanna, Raja Galuh keti¬ga sekaligus teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh ked¬ua (702-709 M). Sena pada tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh Purbasora. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tetapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pak¬uan Pajajaran, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Iro¬nis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa un¬tuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Taru¬manegara. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh dengan bantuan Ta¬rusbawa. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan Purbasora. Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723), kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Tahun 732, Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada puteranya Rarkyan Panaraban (Tamperan). Di Kalin¬gga Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rakai Panangkaran. Rarkyan Panaraban berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh ta¬hun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya; Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Ga¬luh, serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda.
Padrão Sunda Kalapa (1522),
 sebuah pilar batu untuk memperingati
 perjanjian Sunda-Portugisonesia, Jakarta.
Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Ya¬sawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739-766), tetapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759. Dari Déwi Kanca¬nasari, keturunan Demunawan dari Saung¬galah, Sang Banga mempunyai putera ber¬nama Rarkyan Medang, yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang. Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaa¬nya kepada menantunya, Rakryan Hujung¬kulon atau Prabhu Gilingwesi dari Galuh, yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795). Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus (dengan ge¬lar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819). Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakryan Wuwus (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891. Sepeninggal Rakryan Wuwus, kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Ga¬luh, Arya Kadatwan. Hanya saja, karena ti¬dak disukai oleh para pembesar dari Sunda, ia dibunuh tahun 895, sedangkan kekuasaa¬nnya diturunkan ke putranya, Rakryan Win¬dusakti. Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya, Rakryan Kamun¬inggading (913). Rakryan Kamuninggad¬ing menguasai Sunda-Galuh hanya tiga ta¬hun, sebab kemudian direbut oleh adiknya, Rakryan Jayagiri (916). Rakryan Jayagiri berkuasa selama 28 tahun, kemudian diwar-iskan kepada menantunya, Rakryan Watu¬agung, tahun 942. Melanjutkan dendam orangtuanya, Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading), Sang Limburkancana (954-964). Dari Limburkancana, kekua¬saan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya, Rakryan Sundasambawa (964- 973). Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa, kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya, Rakryan Jayagiri (973-989). Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaan¬nya ka puteranya, Rakryan Gendang (989- 1012), dilanjutkan oleh cucunya, Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Dari Déwa¬sanghyang, kekuasaan diwariskan kepada puteranya, lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030- 1042). Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur, mertua raja Airlangga (1019-1042). Dari Sri Jayabhupati, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dharmaraja (1042-1064), lalu ke cucu menantunya, Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi di¬lanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-1156), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-1175). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran, kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda. Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sun¬da-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297- 1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun (1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurpraba¬wa (1340-1350). Dari Prabu Ragamulya, kekuasaan diwariskan ke putranya, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357), yang di ujung kekuasaannya gugur saat Per¬ang Bubat. Karena saat kejadian di Bubat, putranya -- Niskalawastukancana -- masih kecil, kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Buni¬sora (1357-1371). 
Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niska-lawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktung¬gal), yang diberi kekuasaan bawahan di dae¬rah sebelah barat Citarum (daerah asal Sun¬da). Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemer¬intahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382- 1482), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur. Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482). Su¬suktunggal dan Ningratkancana menyatu¬kan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatu¬kan lagi oleh Jayadéwata, yang bergelar Sri Baduga Maharaja. 



Raja-raja Kerajaan Sunda-Galuh 
Menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang berangka tahun 1030 (952 Saka), diketahui bahwa kerajaan Sunda dipimpin oleh Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwana Mandala Swaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa. Prasasti ini terdiri dari 40 baris yang ditulis dalam Aksara Kawi pada 4 buah batu, ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cibadak, Sukabumi. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nesional dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi ketiga batu pertama berisi tulisan sebagai berikut: 
“Selamat. Dalam tahun Saka 952 bu¬lan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tam¬bir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Sa¬marawijaya Sakalabuwanamandaleswara¬nindita Haro Gowardhana Wikramottung¬gadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jay-abupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jan¬gan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batas daerah pemujaan Sang¬hyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan Sumpah.” 
Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé, Kawali, Ciamis.
Prasasti lain yang menyebut raja Sunda adalah Prasasti Batutulis yang ditemukan di Bogor. Berdasarkan Prasasti Batutulis berangka tahun 1533 (1455 Saka), dise¬butkan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, sebagai raja yang bertahta di Pak¬uan Pajajaran. Prasasti ini terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Prasasti Batu¬tulis dianggap terletak di situs ibu kota Pajajaran. Prasasti ini dikaitkan dengan Kerajaan Sunda. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasati ini dibuat oleh Prabu Sanghiang Surawisesa (yang melakukan perjanjian dengan Portugis) dan mencerita¬kan kemashuran ayahandanya tercinta (Sri Baduga Maharaja) sebagai berikut: 
“Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Ba¬duga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Paja¬jaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan. 
Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Ra¬hiyang Niskala Wastu Kancana yang di¬pusarakan ke Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka “Panca Pandawa Mengemban Bumi”.” 
Sayang sekali tidak/belum ditemukan prasasti-prasasti lainnya yang menyebutkan nama-nama raja Sunda setelah masa raja terakhir Tarumanagara sampai masa Sri Jay¬abupati dan antara masa Sri Jayabupati dan Rahiyang Niskala Watu Kancana. Namun demikian nama-nama raja Sunda lainnya hanya ditemukan pada naskah-naskah kuno. Naskah kuno Fragmen Carita Parahyangan (koleksi Perpustakaan Nasional Kropak 406) menyebutkan silsilah raja-raja Sunda mulai dari Tarusbawa, penerus raja terakhir Tarumanagara, dengan penerusnya mulai dari Maharaja Harisdarma, Rahyang Tam¬peran, Rahyang Banga, Rahyangta Wuwus, Prebu Sanghyang, Sang Lumahing Rana, Sang Lumahing Tasik Panjang, Sang Win¬duraja, sampai akhirnya kepada Rakean Darmasiksa. Naskah kuno Carita Parahy¬angan (koleksi Perpustakaan Nasional) me¬nyebutkan silsilah raja setelah masa Taru¬managara. Yang pertama disebutkan adalah Tohaan di Sunda (Tarusbawa). Berikutnya disebutkan nama-nama raja penerusnya sep-erti Sanjaya, Prabu Maharaja Lingga Buana, raja Sunda yang gugur dikhianati di Bubat (Jawa Timur) yang merupakan ayahnya Rahiyang Niskala Wastu Kancana, sampai Surawisesa. Sedangkan nama-nama raja penerus Surawisesa yang berperang dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dapat ditemukan dalam sejarah Banten. Ta¬hun-tahun masa pemerintaha para raja Sun¬da secara lebh terperinci dapat ditemukan pada naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi): 
1. Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723) 
2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732) 
3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739) 
4. Rakeyan Banga (739 - 766) 
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783) 
6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795) 
7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Pra¬bu Gilingwesi, 795 - 819) 
8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891) 
9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895) 
10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913) 
11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916) 
12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942) 
13. Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954) 
14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Ka¬muning Gading, 954 - 964) 
15. Munding Ganawirya (964 - 973) 
16. Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989) 
17. Brajawisésa (989 - 1012) 
18. Déwa Sanghyang (1012 - 1019) 
19. Sanghyang Ageng (1019 - 1030) 
20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042) 
21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065) 
22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155) 
23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157) 
24. Darmakusuma (Sang Mokténg Windu¬raja, 1157 - 1175) 
25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297) 
26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303) 
27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311) 
28. Prabu Linggadéwata (1311-1333) 
29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333- 1340) 
30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350) 
31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357) 
32. Prabu Bunisora (1357-1371) 
33. Prabu Niskala Wastu Kancana (1371- 1475) 
34. Prabu Susuktunggal (1475-1482) 
35. Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521) 
36. Prabu Surawisésa (1521-1535) 
37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535- 1543) 
38. Prabu Sakti (1543-1551) 
39. Prabu Nilakéndra (1551-1567) 
40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579) 
Salah satu tempat keramat Kerajaan Sunda.
Dalam Nagarakretagama, disebutkan bahwa setelah Kertanagara menakluk¬kan Bali (1206 Saka), kerajaan-kerajaan lain turut bertekuk lutut, tidak terkecuali Sunda. Jika ini benar, adalah aneh jika di kemudian hari, kerajaan Majapahit sebagai penerus yang kekuasaannya lebih besar justru tidak menguasai Sunda, sehingga nama Sunda harus termuat dalam sump¬ahnya Gajah Mada. Menurut Kidung Sun¬da, Majapahit berusaha untuk menaklukan Kerajaan Sunda dan beberapa kali melaku¬kan penyerangan tapi berhasil digagalkan. Upaya terakhir Mejapahit untuk memper¬luas kekuasaannya adalah dengan upaya penyatuan melalui perkawinan antara raja Hayam
Wuruk dari Majapahit dan putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Kerajaan Sunda tapi usaha ini pun gagal dan berka¬hir dengan tragedi Bubat. Kerajaan Sunda sudah lama menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa seperti Inggris, Per¬ancis dan Portugis. Kerajaan Sunda bahkan pernah menjalin hubungan politik dengan bangsa Portugis. Dalam tahun 1522, Kera¬jaan Sunda menandatangani Perjanjian Sunda-Portugis yang membolehkan orang Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagai im¬balannya, Portugis diharuskan memberi bantuan militer kepada Kerajaan Sunda dalam menghadapi serangan dari Demak dan Cirebon (yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda).


Binsar HMS Jabang Setra / C Herry SL  By Admin : Iwan Setia L Niman